Pujangga Cinta

June 28, 2009

chai latte

Filed under: Uncategorized — pujanggacinta @ 10:10 pm

Aku ingat bagaimana pertama kali aku mulai tak bisa meninggalkan ritual menikmati secangkir hangat chai latte di musim dingin. Menyusur jalan yang mulai diselimuti salju putih, di satu pagi yang masih malas menyembulkan matahari, kumasuki cafe bernama Clam Maid. Membuka pintu kaca, menarik earphone, menghentikan playlist di iPod, lalu berdiri di antrian.

I’d like to have one chai latte, please. Saya ingin chai latte. Begitu tukasku kepada gadis pirang bermata biru yang menyambut giliranku dengan senyum khas Skandinavianya.

Fine. Baik. Jawaban efektif yang juga cenderung mekanis. Semekanis kelincahan kedua tangannya mempersiapkan pesananku. Mengais kepingan daun-daun chai dari toples kaca, tangkas membungkusnya dengan sebuah disposable tea bag, lalu menari-nari di depan caffe espresso machine (yang begitu mahal, harganya masih jauh di atas gaji bulananku) sehingga steamed milk-pun didapatnya kurang dari beberapa detik. Racikan chai latte itu nyaris sempurna.

Do you want something in your chai latte? Honey? Sugar? Apakah Anda inginkan sesuatu untuk chai latte ini? Madu? Gula? Entah di mana pikiranku saat itu. Otakku sudah mendorongnya jauh dari ruang fisik dalam tulang tengkorakku bermenit-menit yang lalu. Aku pun terpana tatkala gadis pirang itu melontarkan pertanyaan yang tak pernah kuduga.

Yes. Ya. Hanya satu kata itu yang keluar dari refleksku.

Gadis itu kembali tersenyum, mungkin dalam hatinya ia terbahak melihat jawabanku tak berarti itu. Yes what? Honey or sugar? Ya apa? Madu atau gula?

Ditanya lagi? Lagi-lagi refleksku hanya bisa memerintahkan dua patah kata. Yes, honey.

Ia tertawa kecil. Sepersekian detik kemudian mata rantai syaraf menghantarkan kembali jawaban bermakna ganda itu ke sistem kesadaranku. Terlambat, tetapi aku pun juga tertawa.

***

No Comments Yet »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.